Sabtu, 04 April 2015

Kerabat Kita




Bunda,

masih kudengar petuamu bergetar

waktu ku tertegun di ambang pintu,

melepaskan diriku dari pelukmu:

“Hati-hati di rantau orang, anakku sayang,

Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir.

Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung.”

Telah lama aku mengembara:

Jauh rantau kujelajah,

banyak selat dan sungai kuseberangi,

gunung dan gurun kuedari.

Baragam warna, bahasa dan budaya manusia,

teman aku bersantap, bercengkerma dan bercumbu,

lawan aku bertengkar dan berselisih.

Di runtuhan Harapa dan Pompeyi aku ziarah,

Dari menara Eifel dan Empire State Building

aku tafkur memandang semut manusia.

Di pembajaan Ruhr dan Nagasaki

aku bangga melihat kesanggupan ummat

berpikir, mengatur dan berbuat.

Kuhanyutkan diriku dalam lautan manusia

di Time Square di New York dan di Piccadily di

London.

Kuresapkan lagu kesepian pengendara unta

di gurun pasir dan batu Anatolia,

saga Islandia yang megah di padang salju yang putih.

Bunda,

Pulang dari rantau yang jauh

berita girang kubawa kepadamu,

resap renungan petua keramat,

sendu engkau bisikkan di ambang pintu:

Dimana-mana aku menjejakkan kaki,

aku berjejak di bumi yang satu.

Dan langit yang kujunjung

dimana-mana langit kita yang esa

Bunda,

Alangkah luasnya dan dahsyatnya kerabat kita,

kaya budi kaya hati,

pusparagam ciptaan dan dambaan.

Honolulu, HARI IBU, 1962

Dari: Majalah Horison, Oktober 1971