Jumat, 10 April 2015

Riya II





Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary berkata, “Bagian nafsu dalam kemaksiatan itu jelas nyata. Sedangkan bagian nafsu di dalam ta’at, itu tersembunyi dan tidak nyata. Mengobati yang tersembunyi itu sangat sulit terapinya.”
Bahwa nafsu itu memiliki kecenderungan maksiat dan melakukan tindak maksiat itu sangat nyata dan jelas, karena naluri nafsu memang demikian. Namun ketika nafsu menyelinap di balik aktivitas taat, kebajikan, amaliah, sangat tersembunyi.

 Alur nafsu dalam konteks ini memiliki tiga karakter:
1. Takut pada sesama makhluk
2. Ambisi rizki
3. Rela pada kemauan nafsu itu sendiri

Munculnya ketiga karakter itu bersamaan dengan selera nafsu.
Sedangkan perselingkuhan nafsu dibalik taat dan ibadah kita begitu tersembunyi.
Tiba-tiba ia merasa sedikit lebih tinggi dibanding orang lain, sedikit lebih suci, kemudian muncul rekayasa untuk manipulasi, dengan tujuan tertentu atau imbalan tertentu, yang menyebabkan riya’.

Mari kita bertanya pada diri sendiri dibalik nafsu yang tersembunyi ini. Apakah ketika kita beribadah, melakukan aktivitas kebajikan dan amaliyah lainnya, agar kita disebut berperan? Agar disebut lebih dibanding yang lain? Mendapat pujian dan kehormatan orang lain? Anda sendiri dan orang-orang sholeh yang memiliki mata hati-lah yang mengenal karakter itu.
Karena itu nafsu sering bersembunyi dibalik bendera agama, dibalik aktivitas ibadah dan gerakan massa keagamaan, bahkan nafsu merangsek ornamen penampilan orang-orang saleh, agar disebut saleh.

Disnilah Ibnu Athaillah juga mengingatkan berikutnya: “Kadang-kadang riya’ itu masuk padamu, ketika orang lain tidak memandangmu.”
Kenapa demikian? Karena riya’ itu bertumpu pada pandangan makhluk.

Ketika anda bersembunyi atau makhluk lain tidak mengenal anda, lalu anda diam-diam merasa ikhlas, karena makhluk lain tidak melihatmu, itu pun disebut riya’. Sebab unsur makhluk masih tersisa di hatimu.

Al imam Fudhail bin ‘Iyadh, ra, menegaskan, “Beramal demi pandangan manusia itu adalah syirik. Sedangkan tidak melakukan amal karena agar tidak di pandang manusia, adalah riya’.

KH. Sa'id Aqil mencontohkan, ketika kamu sholat di shaf terdepan agar di pandang rajin oleh orang, itu syirik. Dan shalat di shaf belakang karena tidak mau di anggap rajin, itu riya'. Di sebut syirik karena dalam hatinya bangga akan amalnya yang di pandang manusia, sedangkan amal itu hanya Allah sajalah yang berhak menilai. Namun kita malah menaruh pujian atau bahkan sekedar prasangka di puji manusia di dalam hati.

Meninggalkan amal demi manusia adalah riya. Ikhlas adalah jika anda melakukan amal murni karena Allah dan (lalu meninggalkan) kedua faktor di atas.”

Ketika seseorang berlaku riya’, dalam kondisi khalwat, secara diam-diam pula ia ingin disebut lebih utama dibanding yang lain. “Wah saya sudah suluk, saya sudah baiat, saya sudah khalwat… Sedangkan kalian kan belum… Jelas saya lebih baik dibanding anda…”. Bisikan lembut ini adalah bentuk ketakaburan dan riya’.

Bahkan ketika hati kita tidak berbisik seperti itu, tapi masih ada sedikit kebanggaan setelah kita beramal, sedang di saat itu terbayang manusia yang lain yang tidak melakukan amal seperti kita, semisal shalat tahajud, puasa, dan amal lain yang tidak semua orang melakukannya, lalu kebanggaan itu yang berakibat kita merasa orang itu belum sempurna ibadahnya, dan lain-lain, itu masih termasuk riya.

Inilah mengapa Ibnu Athaillah melanjutkan: “Upayamu untuk meraih kemuliaan agar makhluk mengetahui keistemewaanmu, menunjukkan bahwa ubudiyahmu sama sekali tidak benar.”

Karena, menurut Syeikh Zarruq, ra, manakala anda benar dalam ubudiyah pada Tuhanmu, pasti anda tidak senang jika yang selain-Nya mengetahui amalmu.

Sebagian Sufi mengatakan, “Tak seorang pun benar pada Allah Swt, sama sekali, kecuali jika ia senang bila cintanya tidak dikenal oleh yang lain.”
Imam Ahmad bin Abul Hawary ra, mengatakan, “Siapa pun bila senang kebaikannya dipandang orang lain atau disebut-sebut, ia benar-benar musyrik dalam ibadahnya. Karena orang yang berbakti pada cinta, tidak senang bila baktinya dipandang oleh selain yang dia abdi.”

Imam Sahl bin Abdullah ra, mengatakan, “Siapa yang senang pamer amalnya pada orang lain ia telah riya’. Dan siapa yang ingin dikenal kondisi ruhaninya (keadaan hatinya dalam beribadah) oleh orang lain, ia adalah pendusta.”
Syaikh Ibrahim bin Adham nengatakan, “Tidak benar bagi Allah orang yang senang dengan keterkenalan (popularitas).”

Dan menghapus riya’ dan membersihkannya, sudah seharusnya dilakukan dengan memandang kepada Allah Swt dan menolak selain DiriNya.

Dalam kitab Hikam di sebut, salah satu patokan orang berpegangan pada amaliyah-nya pribadi, adalah berkurangnya harapan kepada Allah, (saat melakukan dosa)
Memang mendekat kepada Allah itu dengan beramal shalih. Tetapi amal shalih itu pun adalah anugerah Allah kepada kita. Jika kita melakukan dosa, maka kita tidak malah menjauh dari Allah, tetapi harus sama dengan usaha kita saat kita berbuat kebaikan.

Semoga Allah memberikan kita manfaat dari ilmu para sufi.
Dan kita berkewajiban selalu mendekat kepada para ulama, artinya mengaji langsung kepada mereka. Tentunya para ulama akhirat..

sumber : www.sufinews.com
Dengan sedikit tambahan