Senin, 13 April 2015

Sebuah Nama Yang Sakral

Aradwipa

Saat aku dengar ia menyebutnya dalam sebuah nama
Lalu hati memujinya dengan nama lain
Siapa sebenarnya ia
Ketika sebuah perjamuan di adakan
Hanya untuk membenarkan sebuah nama
Kutatap senja merah
Siapa dia sebenarnya
Lalu ku dengar jiwa dan tubuh berjibaku
Ratusan
Ribuan
Bahkan puluhan ribu
Kulit-kulit tersayat
Rumah dan peribadatan terkoyak
Para penghuni terusir
Hati iba sayang sangat kasihan

Lalu kembali berucap
Siapakah dia sebenarnya

Langkah-langkah mulai menerjang
Badai topan prahara di tendang
Caci maki kutukan bersemburan
Mulut-mulut suci berucap nista

Aku terus dalam juang
Siapakah dia sebenarnya

Hari berlalu
Bulan di kenang oleh tahun yang baru

Kulihat lalu sinar terang

Kuputar waktu kembali ke masa dulu
Kuputar lagi hingga zaman batu
Ku balikkan semua pergerakan semesta
Dalam titik awal
Lalu musnah semua alam

Siapa yang bertanggung jawab?
Siapa yang mencantumkan detik awal?
Siapa meletakkan matahari dalam rel bersama bumi?

Ku berteriak puas
Puas yang  belum pernah terjadi
Siapakah dia?
Dia yang tak pernah membutuhkan semesta
Dia yang selamanya di butuhkan alam raya
Waktu dan ruangpun
tidak bersamanya