Sabtu, 28 Maret 2015

SELALU HIDUP





Dan ketika aku melihat dari kebunku kebawah

ke sawah tunggul jerami di tanah yang rekah,

dan dari sana memandang ke bukit kering merana,

terus ke hutan hijau dibaliknya,

sampai ke gunung yang permai bersandar di langit biru,

maka masuklah bisikan kedalam hatiku:

Hidup ialah maju bergerak,

selalu, selalu maju bergerak,

gembira berjuang dari tingkat yang satu ke tingkat

yang lain.

…………………………………..

Topan, datanglah engkau menyerang!

Malang, datanglah engkau menghalang!

Kecewa, engkaupun boleh datang mendera!

Badanku boleh terhempas ke bumi!

Hatiku boleh hancur terbentur!

Wahai, teman, besi baja yang keras

hanya dapat ditempa dalam api yang panas.

Dan Tuhan,

berikan aku api senyala-nyalanya!



Tiap-tiap beta keluar dari nyalamu,

terlebur dalam bakaran apimu,

nampak kepada beta:

Dunia bertambah jelita!

Diriku bertambah terkurnia!

Dan engkau, Tuhan, bertambah mulia!

21 Agustus 1937

Dari: Pujangga Baru, 1937



HIDUP DI DUNIA HANYA SEKALI

Mengapa bermenung mengapa bermurung?

Mengapa sangsi mengapa menanti?

Menarik menunda badai dahsyat

seluruh buana tempat ngembara

Ria gembira mengejar berlari

anak air di gunung tinggi

memburu ke laut sejauh dapat

Lihat api merah bersorak

naik membubung girang marak

mengutus asap ke langit tinggi!



Mengapa bermenung mengapa bermurung?

Mengapa sangsi mengapa menanti?

Hidup di dunia hanya sekali

Jangkaukan tangan sampai ke langit

Masuk menyelam ke lubuk samudra

Oyak gunung sampai bergerak

Bunyikan tagar berpancar sinar

Empang sungai membanjiri bumi

Aduk laut bergelombang gunung

Gegarkan jagat sampai berguncang

Jangan tanggung jangan kepalang



Lenyaplah segala mata yang layu

Bersinarlah segala wajah yang pucat

Gemuruhlah memukul jantung yang lesu

Gelisahlah bergerak tangan

Terus berusaha selalu bekerja



Punah

Punahlah engkau segala yang lesu

Aku hendak melihat

api hidup dahsyat bernyala,

menyadar membakar segala jiwa.

Aku hendak mendengar

jerit perjuangan garang menyerang

langit terbentang hendak diserang.

Aku hendak mengalami

bumi berguncang orang berperang

Urat seregang mata menantang

12 Januari 1938

ST Alisjahbana.
Jendela Puisi