Minggu, 29 Maret 2015

Manusia Utama


Beta selalu menggemari pemandangan lantang: di

pinggir laut yang luas, di puncak gunung yang tinggi.

Dan sekarang beta berdiri di tengah padang yojana:

sejauh mata memandang ruang lapang, diatas mem-

bentang gelanggang awan terbang.

Disini dada kurasa limpah ruah, darah mengalir

berbusa-busa, tenaga mekar tiada berhambat.

Tuhan menjadikan manusia penguasa seluruh buana:

matanya tembus menerus segala adangan, telinganya

menangkap segala getaran, langkahnya melewati segala

watas dan tangannya menjingkau ke balik angkasa.

Dan hanyalah ketakutannya sendiri yang menjadikan

makhluk itu ulat papa tiada berdaya.

Beribu tali dibelitkannya sekeliling badannya, se-

hingga akhirnya ia tiada dapat bergerak lagi.

Picik matanya akan rahasia alam dan takutnya akan

mati disucikannya menjadi agama. Malasnya berpikir

dan menyelidiki dinamakannya percaya.

Takutnya bertanggung jawab disembunyikannya di

balik nasib. Ngerinya berjalan sendiri dipalutnya dengan

keluhuran sepuhan adat.

Dan akhirnya tertutuplah sekalian kemungkinan alam

yang luas baginya dalam kepompong gelap yang di-

jalinnya sendiri …….

Sedangkan bagi kepompong ulat, makhluk yang lata

itu, alam menjanjikan kemuliaan dan kemegahan, telah

sepatutnya bagi kepompong manusia, makhluk utama

yang lengkap berakal dan berbekal itu, hanya teruntuk

kehinaan dan kemelaratan.

Sebagai hukuman akan kealpaannya terhadap pen-

jelmaan kebesaran dan kekuasaan Tuhan dalam dirinya.

4 Mei 1944

Dari: Majalah Pembangunan, Tahun I, No. 2, 25 Desember 1945