Senin, 30 Maret 2015

Bukankah kita bagian dari tanah gersang!?



Kita berkelakar dalam kelebat bayang yang tak tampak,
lalu terkecoh pada duka lara dan amarah yang rumit
Sedang pikiran menghantui ruh-ruh dari bumi yang mati

Kita buka lembaran-lembaran kertas tahun lalu
Segala paradigma melelehkan helai-helai makna
Melupa mata air kearifan dan hakikat rasa

Kemana perginya angin ?

Lalu di tepi rasamu yang sunyi
Kita eja bait-bait puisi  yang memanusiakan manusia
merenungi baris-baris doa dengan energi tanpa batas
dan memimpikan oase di tengah panas membakar

Ketidakseimbangan itu berakhir bumerang
Karena jiwa-jiwa di rundung cemas yang usang
Atas cinta-cinta yang akan pergi menghilang

Bukankah kita bagian dari tanah gersang!?

Tetapi sesaat kemudian memusuhi maut yang siap menghadang

Februari 2011
Dalam buku “Gemulai Tarian Naz”

Http://riniintama.wordpress.com
Http://jendelasastra.com